Ini Dia Sarjana dengan IPK Tertinggi dan Studi Tercepat di Wisuda Unpad Februari 2013

[Unpad.ac.id, 6/02/2013] Dua orang wisudawan dari program studi Sastra Sunda behasil menorehkan prestasi pada  Wisudawan Unpad Gelombang II Tahun Akademik 2012/2013. Euis Siti Nur Fauziah, berhasil menjadi wisudawan dengan IPK tertinggi di Unpad (3,94) dan Fera Febriani yang tercatat sebagai wisudawan dengan masa studi tercepat (3 tahun 3 bulan).
Euis Siti Nur Fauziah (Foto: Tedi Yusup)*
“Senang sekali, gak pernah nyangka sebelumnya akan mendapat prestasi yang seperti ini,” ujar Euis dan Fera saat diwawancarai di ruang UPT Humas Unpad Kampus Unpad Bandung, Rabu (6/01).
Euis dan Fera sendiri tak pernah menyangka akan mendapat predikat di atas. Sebab, motivasi awal keduanya bukan semata-mata ingin mengejar predikat tersebut. Euis sendiri merasa tidak perlu menunda-nunda kuliah terlalu lama sebab masih banyak impian yang akan dikejarnya.
“Dari awal kuliah, saya sendiri sudah konsentrasi pada akademik, sebab saya tidak mau membuat kedua orang tua yang sudah banyak membiayai hidup saya. Dengan lulus dan mendapat prestasi seperti ini ini adalah salah satu rasa balas budi saya kepada orang tua,” ungkap Euis.
Sementara bagi Fera, banyaknya tugas-tugas perkuliahan membuat dara kelahiran Garut, 14 Februari 1991 ini harus konsentrasi terhadap akademik. Baginya, menuntut ilmu di bangku perkuliahan bukan sekadar mendapat gelar sarjana saja. Ilmu yang didapat haruslah mampu diaplikasikan untuk kepentingan masyarakat banyak. “Kita harus punya kemauan untuk terus belajar. Tanpa adanya kemauan itu, kita tidak akan bisa melakukan sesuatu yang berguna tersebut,” ujarnya.
Meskipun begitu, kejenuhan pun seringkali hinggap di antara keduanya. Fera sendiri bercerita bahwa ia pernah merasa buntu dan stagnan saat menyusun skripsi. Melalui dorongan dari teman-temannya, Fera pun semakin termotivasi untuk menyelesaikan skripsinya.
Fera Febriani (Foto: Tedi Yusup)*
Lain Fera, lain lagi Euis. Saat kejenuhan hinggap, ia selalu berusaha memotivasi dirinya sendiri bahwa pendidikan adalah nomor satu. Melalui motivasi tersebut, ia tidak pernah merasa menemukan titik jenuh yang sangat berat selama ia berkuliah. Anak dari pasangan H. Endang Muksin dan Mimih Sana’ah ini juga tidak sungkan bertanya apa saja kepada dosen-dosennya apabila ada materi perkuliahan yang belum dimengertinya.
Meskipun pendidikan dinomorsatukan, Euis sendiri aktif berorganisasi, khususnya di jurusan dan BEM fakultas. Baginya,berorganisasi sangat penting untuk mempelajari apa yang tidak ditemukan dalam materi perkuliahan, salah satunya ialah me-managehidup.
“Saya orangnya memang gak bisa diam. Di organisasi himpunan jurusan maupun fakultas, saya memegang beberapa jabatan. Bagi saya, organisasi sangat penting untuk mengelola hidup kita, salah satunya ialah bagaimana mengatur waktu antara kuliah dan organisasi. Namun, saya selalu ingat bahwa pendidikan adalah hal utama,” tegasnya.
Sama-sama berkuliah di Sastra Sunda FIB Unpad, Euis dan Fera mengaku banyak mendapat ilmu dan pengalaman berharga. Mempelajari bahasa dan kebudayaan Sunda adalah kebanggaan tersendiri bagi keduanya. Mereka bisa memahami bagaimana kebudayaan tempat keduanya dilahirkan. Sehingga, karakter Sunda yang kini semakin hilang dalam aktivitas masyarakat Sunda saat ini setidaknya masih melekat dan tertanam dalam jiwa mereka.
“Di Sastra Sunda sendiri banyak juga mahasiswa asing yang belajar Sastra Sunda di Unpad. Orang asing saja sampai serius belajar bahasa dan budaya Sunda, masa kita sendiri yang notabene orang Sunda tidak serius mempelajarinya,” ujar Euis.
“Bagaimana kita bisa melestarikan kebudayaan Sunda apabila kita sendiri tidak pernah mempelajarinya,” Fera menimpali.
Kerja keras mereka pun tentunya tidak lepas dari doa dan kerja keras orang tua. Ayah Fera, Moch. Anang Mulyana, mengaku sangat bangga atas apa yang telah dicapai oleh anaknya. Anang berharap dengan prestasi yang telah diraih oleh Fera tidak lantas selesai di sini saja. Begitu pun bagi kedua orang tua Euis. Doa dan usaha yang terus dilakukan oleh keduanya akan selalu menjadi bekal Euis untuk terus mencapak kesuksesannya.
“Terima kasih atas doa dan apa yang telah diberikan Bapak Ibu kepada kami,” ujar Euis dan Fera kepada kedua orang tuanya.*
Laporan oleh Maulana / eh*

0 comments: